Dapatkan 1 lembar kupon untuk setiap pembelian 1 kotak bakpao WIE & WIE. Tukarkan dengan 1 kotak bakpao untuk setiap 10 lembar kupon. Hanya di WIE & WIE. Pesan antar : 061-699 168 83.
Asal-usul bakpau sebenarnya berasal dari Zhuge Liang (181 – 234) salah satu ahli strategis terbaik China, yang juga sebagai perdana mentrei, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao. Di zaman tiga negara (sam kok) pernah terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana mentri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan “The Southern Campaign” Suku selatan itu disebut juga “Nanman” atau “orang barbar dari selatan”. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.
Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskannya sampai 7 kali juga, dimana saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).
Sewaktu membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jendral-jendralnya: “Kenapa dia dibebaskan? Bagaimana jika dia memberontak lagi?”, Liang dengan tenang menjawab: “Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tangan dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya.
Zhuge Liang tahu kalau Meng Huo ditangkap lalu dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya yang akan memimpin pemberontakan ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya supaya Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.
Pada peperangan terakhir yang ketujuh kalinya; Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.
Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo. Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Surga; semoga Surga berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.
Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali”, mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan!
Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai.”
Ia yang sebetulnya tidak sampai hati membantai orang tak berdosa, pada saat itu muncul ide dan segera memerintahkan pasukannya mencacah daging sapi dan kambing, setelah dibumbui dan diremas, lalu dimasukkan ke dalam sebagai isi dari adonan tepung yang dibentuk menyerupai kepala manusia serta di-tim, maka disebutlah ia sebagai Man Shou 饅(蠻)首.
Setelah dicemplungkan ke dalam sungai, ternyata mereka berhasil menyeberang dengan selamat, sedangkan kue Man Shou 饅(蠻)首 tersebut adalah leluhur dari kue Man Tou 饅頭 hari ini (Man饅 pada awalnya ditulis dengan aksara Man 蠻 / nama suku primitive di selatan; Shou首 = kepala adalah sinonim dari Tou 頭. Di Indonesia terkenal sebagai kue Bak Pao